Kamis, 03 Mei 2012



MENSTRUASI
 biasa menghinggapi kaum Hawa setiap bulannya. Tak  terkecuali mereka yang baru berumur belasan atau yang sudah berusia produktif. Namun, ada kekhwatiran sebagian wanita bila menstruasinya terlambat. “Apakah aku hamil?”.
Dr Widiyawati SpOG, dokter spesialis kandungan di kawasan Samarinda Seberang mengatakan, terlambat datang bulan bukan hanya menandai kehamilan, masalah siklus menstruasi itu juga menandai berbagai peristiwa yang dialami tubuh.
“Sering orang salah mengerti, kalau sampai 3 atau 4 bulan tidak haid, mereka menyangka darahnya bisa mengumpul di dalam, menggenang, dan lama-lama bisa berbahaya. Padahal jika tidak haid, berarti tidak ada pendarahan di dalam tubuh. Tidak haid berarti tidak ada endometrium yang lepas. Jadi bukan berarti ada darah yang mengumpul. Darah baru keluar jika selaput lendirnya lepas. Jika tidak lepas, ya tidak berdarah. Jadi jangan khawatir,” ungkapnya.
Menstruasi adalah proses bulanan tumpahan lapisan bagian dalam dan darah terus melalui liang kelamin wanita atau Miss V. Keluarnya cairan yang mengandung darah ini terjadi pada wanita yang sudah memasuki usia subur dan yang sedang tidak hamil. Peristiwa ini dimulai dengan adanya pengeluaran selaput lendir rahim di bagian dalam rahim atau endometrium.
Di bawah pengaruh hormon estrogen, endometrium pun jadi tumbuh menebal, menantikan datangnya sel telur. Ibaratnya lapisan tebal endometrium ini seperti karpet atau tanah subur yang siap menanti datangnya sel telur atau ovulasi. Pada puncak pertengahan siklus haid yang optimal, terjadilah pelepasan sel telur. Nah, saat itulah bila ada sel sperma masuk, sel telur dan sperma ini bersatu menjadi zygote (bakal janin) dan menempel pada endometris yang sudah mencapai ketebalan maksimal tadi.
Simak sejumlah faktor yang dapat memicu kasus terlambat datang bulan berikut ini.
1. Stres
Beban pikiran sangat berpengaruh terhadap kondisi tubuh, termasuk periode menstruasi. Kondisi pikiran yang tidak stabil dapat menurunkan produksi Gonadotropin-releasing hormone (GnRH), hormon yang menghambat terjadinya ovulasi atau menstruasi. Dalam kondisi stres berkepanjangan, sebaiknya hubungi dokter atau bidan untuk membantu.
2. Penyakit
Sakit tiba-tiba, sakit ringan, bahkan sakit berat juga bisa membuat menstruasi tertunda. Tak perlu khawatir, kondisi ini cukup wajar. 
3. Rutinitas berubah
Perubahan rutinitas dalam hidup bisa berpengaruh pada kondisi fisik. Misalnya, mereka yang harus berganti shift kerja dari pagi menjadi malam.
4. Ganti pengobatan
Mungkin Anda sedang mencoba menjalani terapi pengobatan baru seperti pil KB. Cara mengontrol kehamilan semacam ini seringkali mempengaruhi proses ovulasi. Hal ini biasa terjadi hingga tubuh menyesuaikan dengan pola baru.
5. Gemuk
Kelebihan berat badan berpengaruh pada sistem hormonal di tubuh. Badan kasus tertentu bahkan bisa menghentikan menstruasi. Lakukan diet atau pengaturan berat badan untuk membuat siklus menstruasi normal.
6. Kekuarangan berat badan
Tak hanya kegemukan, kekurangan berat badan juga tak baik sistem hormonal tubuh. Gangguan hormonal yang disebut amenorrhea ini bisa diatasi dengan melakukan program penambahan berat badan. Masalah ini biasa terjadi pada wanita supersibuk dan atlet.
7. Salah hitungan
Mayoritas wanita memiliki siklus menstruasi 28 hari. Namun, faktor lingkungan seringkali membuat siklus menstruasi bisa berubah dengan kisaran 22 sampai 36 hari.
Siklus dihitung dari hari pertama menstruasi sampai hari terakhir sebelum menstruasi di bulan berikutnya. Jadi pastikan hitungan Anda.
8. Peri-menopause
Kasus ini biasa terjadi pada masa transisi memasuki masa menopause. Tak hanya terlambat datang bulan, pada masa ini wanita juga sering mengalami menstruasi yang sedikit tak wajar.
Bisa jadi darah yang keluar sangat sedikit, atau bahkan terlalu banyak dibarengi siklus yang sangat tak beraturan. Tapi tenang, semua ini normal.
9. Menopause
Pada masa ini bukan saja terlambat datang bulan, tapi selamanya tak akan mengalami menstruasi lagi. Wanita tak lagi subur atau mengalami ovulasi ketika masuk masa menopause. Menopause bisa terjadi secara alamiah karena faktor usia, tapi bisa juga akibat penyakit atau terapi medis seperti kemoterapi.(*/yov)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar